“For me, photography is more than capturing a scene; it is about preserving the invisible threads that connect people to their land, their traditions, and their animals.
This journey through Bromo and Sumba was born out of a deep fascination with Indonesia’s cultural resilience. Through my lens, I strive to tell honest stories of those who live far from the modern rush—capturing the quiet dignity of the Tenggerese in the mist and the untamed spirit of the Sumbanese on the savannah.
Every photograph is a tribute to the heartbeat of the archipelago.”
“Bagi saya, fotografi lebih dari sekadar mengabadikan sebuah pemandangan; ini tentang melestarikan benang-benang tak terlihat yang menghubungkan manusia dengan tanah, tradisi, dan hewan-hewan mereka.
Perjalanan melalui Bromo dan Sumba ini lahir dari kekaguman mendalam terhadap ketahanan budaya Indonesia. Melalui lensa saya, saya berusaha untuk menceritakan kisah-kisah jujur tentang mereka yang hidup jauh dari hiruk pikuk modern—mengabadikan martabat tenang masyarakat Tengger di tengah kabut dan semangat liar masyarakat Sumba di savana.
Setiap foto adalah penghormatan kepada denyut nadi kepulauan ini.